Surat Terungkap untuk Ayah, Tentang Pria yang Kuharap Kelak Bisa Menggenapkan

sebuah-catatan-tentang-ayah-dan-pria-yang-kuharap-kelak-bisa-menggenapkan sebuah-catatan-tentang-ayah-dan-pria-yang-kuharap-kelak-bisa-menggenapkan

Ayah, sudah lama aku ingin mengobrol akrab denganmu. Sayangnya, kita klop-klop tak pernah bisa duduk berlama-lama berdua. Kesiberbuatn dan segala tanggung balas atas nama pekerjaan melontarkan kita tetapi bertemu sesekali saja.

Tapi seadilnya, waktu ungkapnlah alasan satu-satunya. Jujur, aku masih canggung jika membicarakan hal ini pada Ayah. Dan akhirnya, aku putuskan untuk menulis surat saja. Aku harap cara ini tepat dan bisa meAmpuhkan ayah mengerti tentang hal yang mengganggu pikiranku selama ini.

Bagiku, Ayah adalah jantan nomor satu. Memikirkan soal pendamping hidup serelanya melontarkanku minim ragu. Mungkinkah di luar sana ada jantan yang sehebat badanmu?

Sekilas, Ayah memang terkesan punya karakter yang kuat. Memgedekan anak hawa sepertiku membuatmu seringkali kelimpungan. Tak jarang, Ayah kudu bersikap kasar menghadapi aku yang tak bisa bungkam di rumah. Ayah juga pasti sering kesal jika berjarak pendapat denganku yang kuat kepala dan mudah meledak emosinya.

Tapi entah berapa kali kita pernah bertengkar dan berjarak pendirian, Ayah tetaplah pria yang kuanggap paling hebat. Ketika semakin mengenal sifat dan karakterku setelah dewasa, Ayah akhirnya memilih untuk bersikap lebih Terluang. Aku adalah perempuan yang tak mau bahkan tak bisa dilarang-larang, itulah mengapa Ayah memilih berusaha menyesuaikan.

Jujur aku kagum dengan cara Ayah memagungkanku. Kuangkat empat jempol untuk kehebatanmu. Namun, di usiaku yang sekarang justru aku mulai ragu. Beberapa kali berhubungan dengan pria, tak sempat kutemukan yang sehebat badanmu. Salahkah aku jika menginginkan pendamping bernapas yang seperti Ayah?

Seumur berjiwa aku melihat Ayah yang tak sempat lelah berbuat. Ayah adalah laki yang gigih dan bertanggung tanggapan mencukupi kebutuhan keluarga

Aku memahami sepenuhnya jika mencukupi kebutuhan sebuah keluarga bekerjan perkara mudah. Tapi seumur hidup aku tak pernah sekalipun melihat Ayah yang ayal-margumentasi bekerja. Bahkan, tak pernah sekalipun pula aku mendengar Ayah berkeluh kesah. Yang aku kenal, Ayah hanya fokus untuk bekerja dan bekerja demi keluarga. Demi mencukupi kebutuhan aku, kakak, adik, serta ibu.

Sikap ini pulalah yang melaksanakanku kagum padamu. Harapanku, semoga bisa kutemukan pria sepertimu. Seorang pria yang bertanggung jawab. Yang tak pernah loyo berjuang demi mencukupi kebutuhan orang-orang yang dicintainya. Seorang pria yang tak egois pada kebutuhan dan dirinya sendiri.

Kita memang sering berselisih paham. Meski sedang kesal, aku tak pernah melihat Ayah sengaja bersikap kasar

Sebagai seorang anak tentu tak jarang aku melakukan kekeliruan dan melahirkan ayah kesal. Walau begitu, tak pernah sekalipun ayah menghardik atau hendak berbuat kasar alaku. Ayah adalah seseorang yang penuh kesabaran dan kasih sayang. Walaupun kesal bukan kepalang karena perbuatanku, ayah akan memberi kenal dan mengingatkanku dengan lembut. Sekalipun ayah marah aku bisa melihat dari raut wajahnya tanpa ayah memarahiku.

Sungguh ingin aku memiliki pendamping yang akan mengingatkan tanpa suah terbesit keinginan untuk berbuat kasar. Seorang laki-laki yang tak main tangan dan berkata kejam nan menyakitkan. Ayah selalu mengajarkan bagaimana memaafkan. Akupun berharap seseorang yang akan mendampingiku adalah orang yang memiliki hati lapang untuk memaafkan dan meminta maaf jika memang beralpa.

Aku maklum Ayah menyayangiku dengan cara yang bertidak klop. Aku pun berharap kelak menemukan pasangan urip yang serupa

Cinta ayah diku memang tak ada yang akan menandinginya. Ayah menunjukkannya setiap hari walau tak pernah mengatakannya. Saat aku capa mencapai prestasi walau tak jangkung, ayah tersenyum dan penuh haru. Aku acuh sesungguhnya ayah ingin menangis tapi bagi ayah menangis dan mengeluh sibakn sikap seorang lelaki. Tak apa ayah, aku bahagia bisa melihat ayah bangga.

Ketika ibu memasak konsumsi kegemaran kita, ingatkah ayah mengambil hanya secuil bagian dan memberikan potongan yang besar untukku. Aku ingin punya seorang pendamping yang mampu mencintaiku tanpa deras kata tapi dia menunjukkannya. Laki-laki yang maklum bagaimana memperlakukan seorang perempuan dengan baik.

Ayah, ini adalah akhir dari suratku untukmu. Ayah tentu akhirnya kenal bagaimana anak perempuan ini begitu mengidolakan ayahnya. Tentang harapan-harapanku, semoga Ayah bisa ikut mengamininya. Tentang pria yang kuharap bisa menggenapkan, semoga dia segera datang.

Dari aku, anak wanitamu