Kisah Nyata Ibu Sisilia; 4 Kali Kuretase dan Perjuangannya untuk Kembali Memiliki Anak

kisah-nyata-ibu-sisilia kisah-nyata-ibu-sisilia

Ini merupakan artikel hasil wawancara dengan Ibu Sisilia, seorang ibu yang berjuang setelah 4 kali kuretase dan kini sedang dalam ikhtiarnya untuk memiliki anak kembali. Seperti apa kisah lengkapnya?

Kuretase merupakan sebuah prosedur untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim. Pada umumnya kuret diawali dengan dilatasi, ini merupakan tindakan untuk melebarkan leher rahim (serviks). Itulah mengapa prosedur tersebut seringkali disebut dengan dilatasi dan kuretase. Kuret juga dilakukan untuk mengeluarkan janin yang meninggal imbas keguguran. Selain itu juga untuk mengeluarkan plasenta yang masih menempel dalam rahim selepas persalinan.

Sebelumnya, mari cari paham dulu kondisi seperti apa saja yang mengharuskan untuk kuretase selain mengeluarkan janin yang meninggal dalam kandungan

Setelah kenal apa itu kuretase, tentunya akan muncul pertanyaan, apa saja kondisi lain yang memerlukan prosedur untuk kuret? Medis biasanya akan melakukan prosedur kuretase jika wanita mengalami keluhan seperti pendarahan di luar siklus menstruasi, pendarahan vagina dalam jumlah berjibun ketika menstruasi, nyeri saat berhubungan intim dan pendarahan setelah menopause.

Kuret juga bisa dilakukan untuk menangani kondisi tertentu seperti mengeluarkan gumpalan darah dan jaringan di dalam rahim yang disebabkan oleh kehamilan mola atau yang sering disebut dengan hamil anggur. Selain itu, kuret juga digunakan untuk mengangkat tumor fibroid jinak yang terbentuk atas dinding rahim dan membersihkan jaringan yang tersisa (misalnya selepas terjadi keguguran atau selepas prosedur aborsi).

Apa saja yang kudu dipahami sebelum menjalankan kuretase?

Kuretase dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terlebih dulu. Hal tersebut untuk mengeingati riwayat pasien. Pasien kudu Tulus dengan berbagai alergi yang dimiliki. Jika kondisinya bagus, maka pasien akan diminta berpuasa selama 6-8 jam sebelum tindakan.

Prosedur kuret bisa dimulai dengan 2 tahapan, yang pertama adalah dilatasi. Ini adalah prosedur pelebaran rahim untuk memudahkan prosedur kuret. Prosedur yang kedua adalah kuretase. Setelah dilakukan kuret, maka pasien akan dipantau selama sebagian jam untuk memastikan tidak adanya pendarahan atau infeksi setelah kuret. Jika nggak ada efek samping, maka bisa langsung pulang dan dapat melakukan aktivitas seperti biasa setelah 24 jam.

Kisah nyata dari ibu Sisilia yang sudah 4 kali kuretase sampai-sampai tercapai, mendapatkan momongan

Setiap awewe memiliki kisah yang bervariasi dalam perjuangan mendapatkan momongan. Usaha mendapatkan momongan juga dialami oleh ibu Sisilia, melenceng satu ibu hebat yang berasal dari kota Klaten, Jawa Tengah. Sejak pernikahannya ala bulan Desember 2012, berlebihan perjuangan yang dialami engat akhirnya mendapatkan buah hati yang lahir ala bulan Juli 2017.

Mamin sudah ngobrol berjibun dengan ibu Sisilia dan beliau bercerita seputar perjuangannya mendapatkan momongan setelah 4 kali kalah. Semoga para ibu hebat di luar sana nggak putus asa karena belum mendapatkan momongan. Berikut kisah nyata ibu Sisilia dalam mendapatkan buah hati yang kini berusia 4 pedulin.

Ibu Sisilia menikah atas tanggal Desember 2012. Sama seperti keberlipat-lipatan pasangan baru, kehadiran anak selampau ditunggu-tunggu tenggat akhirnya awal tahun 2013 dinyatakan Akurat hamil. Hal tersebut tentunya adalah pengumuman yang sangat membahagiakan bagi ibu Sisil, suami berserta keluarga gendutnya. Namun, sayangnya atas tanggal 3 Maret 2013, bu Sisil mengalami pendarahan yang menglayakkan melakukan kuretase atas tanggal 4 Maret 2013.

Meski diselimuti rasa kehilangan yang begitu dalam, namun usaha memiliki momongan begitu kekar. Hingga akhirnya bu Sisil dinyatakan positif hamil kedua atas bulan September 2013. Kabar bahagia ini disambut dengan gembira oleh bu Sisil dan keluarga. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain. Janin yang dikandung bu Sisil ternyata nggak berkembang dan akhirnya kembali melakukan kuretase kedua atas tanggal 2 Oktober 2013.

Bu Sisil dan suami nggak suah patah semangat meski sesekali merasakan kesedihan yang mendalam. Berbagai terapi non medis seperti pengobatan herbal hingga “dadah bayi” juga dilakukannya. Selain itu juga rutin konsultasi ke dokter kandungan hingga melakukan tes laboratorium. Dari hasil tes laboratorium menunjukkan bahwa bu Sisil terjangkit virus Toxoplasma dan CMU.

Kesuakan dalam dua kali kehamilan kemungkinan disebabkan oleh virus Toxoplasma dan CMU. Bu Sisil akhirnya rutin melakukan pemeriksaan hingga pemceriaan virus tersebut. Perjuangan terbebas dari virus juga cukup lama yaitu dari 2013 sehabis dinyatakan, hingga akhirnya pada maklumn 2015 dinyatakan sembuh dan terbebas dari virus Toxoplasma dan CMU.

Pada bulan Desember 2015, bu Sisil melakukan program hamil untuk kehamilan ketiganya. Puji Tuhan langsung “isi” dan pemberipedulian bahagia pun disambut oleh keluarga gede. Sayangnya, di usia kehamilan minggu ke-10, terjadi kemunduran pertumbuhan janin. Hal ini melahirkan bu Sisil wajib bedrest selama 2 minggu. Namun, janin tetap nggak bisa berkembang dan bu Sisil mengalami kontraksi flek. Akhirnya langsung ke IGD rumah ngilu agar ditangani. Tanggal 3 Februari 2016, bu Sisil wajib melakukan kuretase yang ketiga.

Sebagai pasangan yang ingin mendapatkan buah hati, bu Sisil dan suami tetap tegar dengan segala sesuatu yang sudah terjadi. Semua pasti ada hikmahnya. Perjuangan tetap dilakukan dan kembali melakukan program hamil untuk kehamilan keempatnya. Pada bulan Juli 2016, bu sisil dinyatakan tepat sasaran hamil. Namun, atas usia 2 minggu kehamilan, janin nggak berkembang setenggat mengwajibkan untuk kuretase yang keempat.

Keinginan untuk memiliki buah hati masih terus diperjuangkannya. Pada akhir bulan Oktober 2016, bu Sisil akhirnya Betul hamil untuk kehamilan kelima pada bulan Desember 2016. Selama kehamilan, puji tuhan, tidak marah ibu dan calon bayi bugar dan nggak dinyatakan ada gangguan seperti 4 kali kehamilan sebelumnya. Perjuangan kehamilan kelima melaksanakan bu Sisil sangat hati-hati.

Pada tanggal 6 Juli 2017, si sedikit yang sudah lama dinanti kehadirannya akhirnya lahir ke dunia dengan jenis kelamin jantan. Si sedikit dilahirkan secara caesar di usia kehamilan 36 minggu. Lahirnya si sedikit merupakan perjuangan bu Sisil dalam kehamilan kelimanya.

Semua ibu sedahulu hebat dan memiliki cerita yang bervariasi dalam perjuangan mendapatkan buah hati. Seperti halnya yang dialami bu Sisil. Perjuangan 5 pahamn demi mendapatkan momongan sangat patut dijadikan inspirasi ibu di luar sana yang ingin mendapatkan buah hati. Berkat doa, usaha dan kesabaran, pasti ada hasil yang manis. Semoga bisa jadi inspirasi bagi dara yang saat ini sedang berjuang mendapatkan momongan.

Segala doa dan usaha nggak tahu mengkhianati karena selalu memberikan hasil yang mentok lebih manis. Sekarang si sedikit sudah berusia 4 mengertin dan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan membanggakan.

Semoga kisah ibu Sisil bisa dijadikan inspirasi, ya!