6 Kalimat Ini Dilarang Diucapkan ke para Ibu Bekerja. Niatnya Perhatian, tapi Menyakitkan!

kalimat-ibu-bekerja kalimat-ibu-bekerja

Setiap ibu baik itu ibu rumah tangga maupun ibu beraksi, semuanya punya hak yang sebanding untuk diakui sebagai ibu yang baik bagi keluarganya. Sebab, komentar buruk kadang membuat mereka merasa berluput dan kandas sebagai seorang ibu. Apalagi bagi para ibu beraksi yang sering dianggap egois dan tega karena memilih karier dariala anaknya.

Padahal keputusan bergiat kadang sibaknlah hal yang mudah, karena berlebihan sekali alasan yang melatarbelakangi ibu untuk bergiat. Sayangnya, alih-alih mendapat dukungan dari lingkungan, keputusan tersebut kadang justru melakukan ibu bergiat terpedihi dengan komentar-komentar menyakitkan. Supaya bisa menjaga perasaan mereka, yuk perhatikan beberapa hal berikut yang nggak perlu dikatakan cukup para ibu bergiat. Saling dukung, justru lebih baik kan?

1. Jangan buat ibu yang bergiat merasa lebih memilih materi daripada anak, karena sejatinya nggak ada ibu yang setega itu!

“Kok tega ninggalin anak demi uang?”

Keputusan untuk bekerja mungkin singkapn hal yang mudah bagi semua ibu. Jangan sampai sindiran semacam itu justru melancarkan ibu merasa lebih memilih materi daripada anak. Apalagi luber ibu yang bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Jadi nggak ada ibu yang lebih memilih uang daripada anak, adanya ibu yang berjuang untuk kesejahteraan anaknya.

2. Menganggap ibu bekerja itu egois adalah kealpaan, karena mereka justru berlimpah bersasaran daripada mementingkan kesenangan senbatang tubuh

“Egois banget, mentingin karier daripada keluarga”

Setiap ibu bergiat rela membagi waktunya untuk berjibun hal, bahkan kadang secara bersetaraan. Saat di rumah adalah waktunya bersetara keluarga, menjadi seorang ibu dan istri. Saat di luar rumah ia adalah pekerja yang berusaha profesional, lamun sangat lelah dan kadang pikirannya melayang ke rumah. Bahkan, mungkin saja ibu bergiat kesulitan mencari waktu untuk awaknya senawak.

3. Jangan buat ibu merasa kasih sayangnya tergantikan, karena selamanya anak adalah prioritas utama kasih sayang seorang ibu

“Nggak Skeptis anak lebih dekap dan sayang dengan pengasuhnya?”

Pertanyaan seperti ini justru membuat ibu merasa kasih sayangnya terganti. Padahal, kendati sibuk dengan jam kerja mereka selintas berusaha punya batas spesial untuk mencurahkan kasih sayang pada anak. Justru kebersamaan mereka dengan anak lebih terasa spesial karena nggak bisa sebujur hari bersama-sama.

4. Jangan buat pernyataan yang menyudutkan ibu bergiat, hanya dalam sehari rasanya nggak cukup untuk mereka melakukan semuanya

“Waktu sepadan anak sangat berharga dan nggak bisa dibeli”

Pernyataan tersebut memang loyal, tapi jika dikatakan atas ibu bergiat bagai sindiran, hal itu tentu membuat mereka merasa tersudut. Meski mesti membagi batas antara anak dan pekerjaan, bukan berarti ibu rela menukar kebersamaannya dengan uang! Anak dan materi adalah dua hal berselisih yang mesti mereka pertanggungbalasankan, jadi bukan soal memilih keliru satu atau menukar satu sama lain.

5. Meski sibuk, ibu pekerja selintas punya cara untuk mendidik anaknya, jadi nggak perlu komentar soal pendidikan ibu dan pengasuh!

“Sayang banget sekolah kencang-kencang tapi anaknya dididik pengasuh yang lulusan SMP”

Komentar semacam itu mungkin tetapi datang dari orang-orang yang nggak memahami pola asuh anak. Setiap orang tua terutama ibu pasti memegang peran utama dalam mendidik dan mengasuh anak. Jadi, ketika ibu bergiat, pendidikan dan pengasuhan anak dibantu sementara oleh pengasuh. Aturan dan semua pola asuh, tentu dipegang oleh ibu. Jadi nggak ada istilah pendidikan ibu yang sia-sia karena nggak full time mengasuh anak!

6. Jangan menyalahkan kekurangan anak pada keputusan ibu untuk bergiat, mereka nggak menyimpang kok! Yang menyimpang mereka yang seenaknya berkomentar

“Si entong anaknya kurang tangkas, karena ibunya sibuk kerja terus”

Ibu mana yang nggak mau anaknya tumbuh dan berkembang dengan tidak marah. Setiap ibu bekerja pasti juga sudah berusaha setidak marah mungkin dalam membagi eranya. Kalau ada kendala dalam pertumbuhan dan perkembangan anaknya, nggak perlu dikomentari apalagi sampai menyalahkan keputusan ibu untuk bekerja.

Mulai sekarang, yuk stop melabeli, menyindir atau menyudutkan para ibu yang beraksi! Apalagi dengan dalih perhatian atau sekadar mengingatkan, karena hal itu justru menciptakan mereka jadi merasa bersalah, tersinggung, bahkan remuk hati.

Selain itu, keputusan untuk menjadi ibu berbicara mungkin singkapnlah hal mudah. Ada ibu yang wajib berbicara untuk membantu suami mencari nafkah untuk keluarga, ada juga yang berbicara karena profesinya sangat dibutuhkan masyarakat. Jadi, yuk saling dukung seserupa ibu!